Jumat, 14 Februari 2014

 Hi Brow. Kali ini gue akan ngepost tentang “PEMAIN BULUTANGKIS LEGENDARIS INDONESIA”. Indonesia memang dikenal bulutangkisnya, terbukti dengan seabrek-abrek prestasi yang diukir oleh pemain bulutangkis Indonesia. Baik dari sektor tunggal putra, ganda putra, tunggal putri, ganda putri bahkan ganda campuran. Nah, ditahun 2014 ini, tepatnya tanggal 18-25 Mei 2014, akan dilaksanakan THOMAS dan UBER cup badminton yang digelar di India. Ayo, Indonesia bisa! Walaupun tahun 2012 lalu kita belum menang, kali ini pasti Indonesia bisa memboyong piala Thomas dan Uber. Aaaamiiiin...

Tokoh-tokoh legendaris ini musti di acungin jempol deh prestasinya di skala dunia. Keterlibatan mereka untuk mengharumkan nama bangsa patut dibanggakan. Ini dia tokoh-tokoh legendaris pebulutangkis indonesia :
1. Rudy Hartono Kurniawan 
Rudy hartono kurniawan.jpg
Rudy Hartono Kurniawan (Hanzi: 梁海量,Nio Hap Liang; translasi fonetik nama Indonesianya ke bahasa Tionghoa: 哈托 Hatuonuo) lahir di SurabayaJawa Timur, tanggal 18 Agustus 1949. Ia adalah seorang mantan pemain bulu tangkis Indonesia. Ia pernah memenangkan kejuaraan dunia pada tahun 1980, dan Kejuaraan All England selama 8 kali pada tahun 1960'an dan 1970'an.

2. Liem Swie King
Liem Swie King
Liem Swie King, lahir di KudusJawa Tengah28 Februari 1956. Ia adalah seorang pemain bulu tangkis yang dulu selalu menjadi buah bibir sejak dia mampu menantang Rudy Hartono di final All England tahun 1976 dalam usianya yang ke-20. Kemudian Swie King menjadi pewaris kejayaan Rudy di kejuaraan paling bergengsi saat itu dengan tiga kali menjadi juara ditambah empat kali menjadi finalis. Bila ditambah dengan turnamen "grand prix" yang lain, gelar kemenangan Swie King menjadi puluhan kali. Swie King juga menyumbang medali emas Asian Games di Bangkok 1978, dan enam kali membela tim Piala Thomas. Tiga di antaranya Indonesia menjadi juara.
Mulai bermain bulu tangkis sejak kecil atas dorongan orangtuanya di kota kelahiran Kudus, Swie King yang lahir 28 Februari 1956 akhirnya masuk ke dalam klub 
PB Djarum yang banyak melahirkan para pemain nasional.
Usai menang di 
Pekan Olahraga Nasional saat berusia 17 tahun, akhir 1973, Liem Swie King direkrut masuk pelatnas yang bermarkas di Hall C Senayan. Setelah 15 tahun berkiprah, Swie King merasa telah cukup dan mengundurkan diri pada tahun 1988. Saat aktif sebagai pemain, Liem terkenal dengan pukulan smash andalannya, berupa jumping smash, yang dijuluki sebagai King Smash. Ingat film Indonesia yang judulnya KING kan? Nah, film itu adalah inspirasi dari seorang tokoh Liem Swie King ini.

3. Alan budikusuma
Alanbudikusuma.jpg
Alan Budikusuma Wiratama alias Goei Ren Fang lahir di SurabayaJawa Timur, pada tanggal 29 Maret 1968. Ia adalah mantan pemain bulu tangkis Indonesia yang meraih medali emas bulu tangkis pada Olimpiade Barcelona 1992 dalam nomor tunggal putra. Ia pun akhirnya pensiun dari dunia bulu tangkis setelah Olimpiade Atlanta 1996.
Alan menikah dengan 
Susi Susanti, yang juga memenangkan medali emas bulu tangkis pada Olimpiade Barcelona. Yang bisa kita tiru dari seorang tokoh Alan Budi Kusuma adalah, ia merupakan atlet yang bisa belajar dari kekalahan. Contohnya tahun 1991 Alan Budi Kusuma kalah dari Ardy B. Wiranata di All England tapi di tahun 1992 Alan Budi kusuma mengalahkan Ardy B. Wiranata di Olimpiade Barcelona. Contoh lain di tahun 1996 Alan Kalah dari poul Eric H.L di Olimpiade Atlanta tapi di tahun yang sama Alan Budi kusuma mengalahkan Poul eric di Indonesia terbuka.

4. Tjun Tjun 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjg-9M8OWjACgAgepKIHYCuTnuA0ZfJFzL4V4eB_UHZary2jh3sLTecVwXwz6AfjOHSeX9SMdKPJsjvH_mHPXZBJdA1MLBc4oYtCQ9E6JX54SfmCMGyvOcPbop9QzBgFyuh1Sk_5z7wI_0/s320/BBC.jpg
Tjun Tjun ialah pemain bulu tangkis putra dari Indonesia yang terkenal sebagai spesialis ganda pada tahun 1970-an. Di masa jayanya, ia berpasangan dengan Johan Wahjudi, dan berhasil beberapa kali memenangi kejuaraan bulu tangkis paling terhormat pada masa itu, All England.
Pasangan Tjun Tjun/Johan Wahjudi dan pasangan lainnya 
Christian Hadinata/Ade Chandramendominasi dunia ganda putra. Bersama dengan pemain tunggal Rudy Hartono dan Liem Swie King, tim Indonesia pada tahun hampir tidak terkalahkan antara 1970-1980 dan menjuarai setiap kejuaraan Thomas Cup.
Kakak Tjun Tjun, 
Liang Chiu Hsia (pinyin: Liang Qiu-xia) merupakan juara bulu tangkis putri di Tiongkok pada tahun 1960-an, sebelum akhirnya menjadi pelatih tim bulu tangkis putri Indonesia dan melatih Susi Susanti dan kawan-kawan memenangkan piala Uber.

5. Arby B Wiranata

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjsVd4MK2XxVThuB08No6IcMogJt_dXidF7W662qGC0rvqs8hhCHBjWXwIJGYPQGG2M41BJuGIG5zmspkV8i7A31z81SCZ8BI_AFxJcnn-E73ECTDPd_523VxdlAnQY12caQ7jQSs9nwQU/s400/AR-2.jpg 
Ardy Bernardus Wiranata, sering disebut dengan nama Ardi B.W. Lahir di Jakarta10 Februari 1970. Ia adalah pemain bulu tangkis Indonesia di era tahun 1990-an, juara Indonesia Terbuka 6 kali dan peraih Medali Perak Olimpiade Barcelona 1992. Ia adalah salah satu pebulu tangkis terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.
Ardy meraih Medali Perak di Olimpiade Barcelona 1992 setelah di final kalah dari 
Alan Budikusuma yang juga pemain Indonesia. Ia merupakan atlet berprestasi hasil binaan PB DjarumSetelah berhenti sebagai pemain bulu tangkis, Ardy memfokuskan diri menjadi pelatih bulu tangkis.

6. Susi Susanti
Susi Susanti 
Lucia Francisca Susi Susanti (Hanzi: 王蓮香PinyinWang Lian-xiang), lahir di TasikmalayaJawa Barat11 Februari 1971. Ia adalah seorang pemain bulu tangkis putri Indonesia.
Dia menikah dengan 
Alan Budikusuma, yang meraih medali emas bersamanya di Olimpiade Barcelona 1992. Selain itu, ia pernah juga meraih medali perunggu di Olimpiade Atlanta 1996. Pasangan Alan dan Susi memiliki 3 orang anak yang bernama Laurencia Averina (1999), Albertus Edward (2000), dan Sebastianus Frederick (2003). International Badminton Federation (sekarang Badminton World Federation) pada bulan Mei 2004 memberikan penghargaan Hall Of Fame kepada Susi Susanti. Pemain Indonesia lainnya yang memperoleh penghargaan Hall Of Fame yaitu Rudy Hartono Kurniawan,Dick SudirmanChristian Hadinata, dan Liem Swie King.

7. Mia Audina
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhiXwi_EOyUtze16RzyPDQr_BgQDpqc9sqmnEzQndaABiF4BcCDFVOHmbcssfQ7uHwunxClXg1Y9jeIk-VG0x9pAmKIZknXqKC-OWgoNJ6KgD22qAF2UKrd7MlapO1g5SWqUFNVliVJrZo/s400/m-14.jpeg 
Mia Audina Tjiptawan (Hanzi: 張海麗Pinyin: Zhang Haili), lahir di JakartaIndonesia, pada tanggal 22 Agustus 1979. Ia adalah seorang mantan pemain bulu tangkis putri Indonesia. Ia merupakan peraih medali perak Olimpiade Atlanta 1996 dan Athena 2004.
Ia memperkuat Tim Piala Uber Indonesia saat masih berumur 14 tahun dan menjadi anggota Tim Piala Uber termuda sepanjang sejarah bulu tangkis. Mia mendapat julukan "Si Anak Ajaib" karena menjadi pemain penentu kemenangan Indonesia saat menjuarai
Piala Uber 1994 dan 1996. Mia memperoleh medali perak Olimpiade Atlanta 1996 setelah di final dikalahkan Bang Soo-Hyun, pemain andalan Korea Selatan.
Pada tahun 
1999 Mia menikah dengan Tylio Arlo Lobman, seorang penyanyi gospel asal Suriname berkebangsaan Belanda. Ia kemudian menetap dan menjadi warga negara Belanda dan mulai mewakili Belanda dalam berbagai pertandingan.

8. Tan Joe Hok 
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/7/70/Tan_joe_hok.jpg 
Tan Joe Hok alias Hendra Kartanegara (Hanzi: 陈甲亮Pinyin: Chén Jiǎliàng) dilahirkan di BandungJawa Barat, tanggal 11 Agustus 1937 adalah pemain bulu tangkis Indonesia di era tahun 1960-an. Ia adalah putra Indonesia pertama yang menjuarai All England dan meraih medali emas Asian Games. Selain itu, Ia bersama enam pebulu tangkis Indonesia lainnya merebut Piala Thomas untuk pertama kalinya. Pada masanya, Tan Joe Hok mempunyai nama besar sebagai atlet kebanggaan Indonesia karena prestasinya mengharumkan nama bangsa.
Tan Joe Hok bersama dengan 
Ferry SonnevilleLie Poo DjianTan King GwanNjoo Kim BieEddy Jusuf, dan Olich Solihin merupakan perintis Tim Thomas Indonesia yang dikenal sebagai “tujuh pendekar" bulu tangkis tanah air. Mereka berhasil menjuarai Piala Thomas 1958 setelah menaklukkan juara bertahan Malaysia (dahulu bernama Malaya) dalam babak penantangan (chalenge round) dengan skor 6-3 di Singapore Badminton Hall,Singapura (dahulu merupakan bagian negara Malaya). Dalam perebutan Piala Thomas tersebut, Tan Joe Hok bermain sebagai pemain tunggal sekaligus pemain ganda (berpasangan dengan Lie Poo Djian).
Setelah pensiun dari pemain bulu tangkis, Tan Joe Hok sempat menjadi pelatih bulu tangkis di 
Meksiko dan Hongkong. Ia bergabung menjadi pelatih PB Djarum tahun 1982 dan merangkap sebagai project manager cabang PB Djarum di Jakarta.
Ia kemudian diangkat menjadi pelatih pelatnas Piala Thomas 1984 dan berkat bimbingannya Tim Bulu Tangkis Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas 1984 dengan munundukkan 
China. Atas prestasinya SIWO/ PWI Jaya menganugerahkan penghargaan sebagai Pelatih Olah Raga Terbaik 1984.

9. Rexy Mainaky
http://www.badzine.net/wp-content/gallery/features/rexy-mainaky-01-mas-rs-singaporeopen2007.jpg 
Rexy Ronald Mainaky dilahirkan di TernateMaluku Utara, tanggal 9 Maret 1968. Ia adalah mantan pemain bulu tangkis Indonesia. Bersama dengan Ricky Subagja, Ia merebut medali emas Olimpiade Atlanta 1996. Setelah pensiun, Ia menjadi pelatih bulu tangkis, dan saat ini menjadi pelatih di Malaysia.

10. Icuk Sugiarto
Icuk sugiarto.jpg 
Icuk Sugiarto, dilahirkan di SoloJawa Tengah,pada tanggal 4 Oktober 1962. Ia adalah juara dunia bulu tangkis tahun 1983, yang juga adalah legenda tunggal putra bulu tangkis Indonesia bersama Liem Swie KingLius PongohHastomo ArbiKartono, dll serta pahlawan bulu tangkis Indonesia di era 1980-an bersama pemain - pemain bulu tangkis Indonesia yang lainnya. Ia sekarang menjadi salah satu staf ahli menpora di eranya SBY-JK.
Icuk dikenal sebagai atlet bulu tangkis yang kerap menjuarai pertandingan baik di dalam maupun luar negeri. Kiprahnya dalam dunia bulu tangkis memuncak pada saat dia memenangkan kejuaraan bulu tangkis tingkat dunia yang telah memberikannya gelar 
Juara Dunia pada tahun 1983 dan 1986. Teknik-teknik tajam yang dahulu digunakannya pada setiap pertandingan seakan melegenda. Bahkan hingga kini, diusianya yang ke 46, beliau masih belum kehilangan kelihaiannya dalam bemain bulu tangkis. Hal ini dibuktikan dengan kepiawaiannya melatih anak didiknya di klub PB Pelita Bakrie.
Suami dari 
Hj. Nina Yaroh dan ayah dari Natassia Octaviani Sugiarto, Tommy Sugiarto, dan Jauza Fadhilla Sugiarto ini seakan tak dapat dipisahkan dari bulu tangkis. Kendati kariernya menjadi atlet bulu tangkis telah selesai, namun dia tetap berjuang dengan segala cara untuk meningkatkan permainan atlet-atlet bulu tangkis Indonesia agar selalu dapat menorehkan prestasi tertinggi pada setiap pertandingannya.

11. Ivana Lie
Sm16lie29epsx.jpg 
Ivanna Lie Ing Hoa, dilahirkan di BandungJawa Barat,pada tanggal 7 Maret 1960. Ia adalah pemain bulu tangkis Indonesia era 1980-an. Sederet prestasi telah ia persembahkan, baik di sektor tunggal maupun sektor ganda. Juara Indonesia Terbuka, Juara China Terbuka, serta Sea Games Tahun 1979 dan 1983, Juara Taiwan Open 1982 dan 1984, Runner Up Kejuaraan dunia 1980 dan kejuaraan lainnya. 27 Agustus 2013 lalu, Ivana Lie menerima penghargaan “Legend Badminton Women” yang diberikan oleh Pena Tanah Air Citra Media Indonesia.
12. Chandra Wijaya
http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTwMciX_IYT-rmql_QIq4N2IMQxu2oLOvzOMjlIHjNNlSVdBI73 
Rafael Candra Wijaya, lahir di CirebonJawa Barat pada tanggal 16 September 1975. Ia adalah seorang pemain bulu tangkis terkenal Indonesia, peraih medali emas Olimpiade 2000. Ia adalah salah seorang pemain ganda putra terbaik yang pernah dimiliki oleh Indonesia. Candra berhasil merebut berbagai gelar juara dengan banyak pasangan baik di ganda putra maupun ganda campuran. Pemain-pemain yang pernah berpasangan dengannya adalah Ade SutrisnaSigit BudiartoTony GunawanNova WidiantoEliza Nathanael, dan Jo Novita.
Candra Wijaya besar dan tumbuh dalam keluarga pemain bulu tangkis. Ayahnya, 
Hendra Wijaya, adalah mantan pemain bulu tangkis sekaligus pemilik klub bulu tangkis Rajawali di Cirebon. Kakaknya, Indra Wijaya, adalah mantan pemain bulu tangkis Indonesia dan pernah memperkuat Tim Piala Thomas Indonesia 1996 dan 1998. Adiknya, Rendra Wijaya dan Sandrawati Wijaya, juga menjadi pemain bulu tangkis.
Ia mulai berlatih bulu tangkis sejak berumur 12 tahun di Klub Rajawali. Ia kemudian pindah ke 
Jakarta untuk berkarier di bulu tangkis dan bergabung dengan klub Pelita Bakrie sebelum akhirnya pindah ke klub Jaya Raya. Suami dari Caroline Indriani ini telah dipercaya untuk memperkuat Tim Piala Thomas sebanyak 7 kali (1998, 2000, 2002, 2004, 2006, dan 2008) serta Tim Piala Sudirman sebanyak 6 kali (1997, 1999, 2001, 2003, 2005, dan 2007)

13.Verawaty Fajrin
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjS_ZqjESO-ES0Uoyg8bnOT8QBzHwlUuRBskm_4dBPnYTjiPMpBjU-bfXAQi8f7P8cygx6wklCpvLsM566cMgyJLyPwvJl7scOxH_1Mkr0vZ_FuU9FdI3Jc2FbTPAFPbJ0HGx5VX8gE87E/s1600/veraedit.jpg 
Verawaty Wiharjo dilahirkan di Jakarta, pada tanggal 1 Oktober 1957. Ia adalah pemain bulu tangkis terkenal Indonesia era tahun 1980an. Ia berhasil meraih banyak gelar juara baik di nomor tunggal putri, ganda putri, dan ganda campuran. Pemain-pemain yang pernah berpasangan dengannya adalah Imelda WigoenaIvanna LieYanti KusmiatiBobby Ertanto, dan Eddy Hartono.
Verawaty Wiharjo kemudian dikenal dengan nama Verawaty Fajrin setelah memeluk agama 
Islam pada bulan April 1979. Nama Fajrin di belakang namanya diambil dari nama suaminya, Fajrin Biduin Aham.

14. Hariyanto Arby
Hariyanto Arbi.JPG 
Hariyanto Arbi (lahir di KudusJawa Tengah21 Januari 1972; umur 40 tahun) adalah pemain bulu tangkis tunggal putra Indonesia. Jebolan PB Djarum ini mempunyai julukan Smash 100 Watt dan aktif bermain di era 1990an, terutama dari tahun 1990 sampai tahun 1996. Setelah pensiun ia menggeluti dunia bisnis peralatan olahraga bulu tangkis Flypower.

15. Taufik Hidayat
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgddQ3nlSqW-NrJBzTHEI8BybgppMew14oqHcgk0yoJjw1IQ3PpXFQgfzSpGZcJy0nbFgTAiQakmUSRLOPUD5eTM8rBLmxFo4JZdvNR_YJ9VJaxYTNb03XCdX-FJGmdcQkuiTrshyBustQ/s1600/20090120194026TaufikHidayat192_18_O.jpg 
Taufik Hidayat dilahirkan di Bandung, Jawa Barat, 10 Agustus 1981.Walau di usianya yang sudah memasuki kepala 3, ia tetap menjadi pujaan para penggemar bulu tangkis di Indonesia. Gelar demi gelar pun ia sumbangkan. Tahun 2004, ia berhasil merebut medali emas olimpiade. Selain itu, dia juga telah enam kali menjuarai Indonesia Terbuka pada tahun 1999, 2000, 2002, 2003, 2004, dan 2006.Walaupun Taufik Hidayat tak pernah bergelar di All England, tetapi Taufik Hidayat pernah menjadi pebulutangkis nomor 1 dunia. Tidak hanya itu, Taufik Hidayat pun pernah dijuluki sebagai backhand paling mematikan di dunia yang kecepatannya bisa mencapai 260 km/h. Pertandingan terakhirnya adalah saat di Indonesia Open 2013 lalu.

Nah brow, mereka adalah pemain bulu tangkis yang pernah mengharumkan nama bangsa kita, Indonesia. Kita patut bangga dengan mereka yang telah mengukir prestasi-prestasi untuk negeri kita ini. Sekarang, generasi-generasi peneruslah yang wajib untuk meneruskan perjuangan para atlet-atlet bangsa terdahulu. Buat yang bercita-cita menjadi pebulu tangkis profesional, ayo..rajinlah berusaha, karena dimana ada kemauan, disitu pun ada jalan. Tentunya harus dilandasi dengan usaha dan kerja keras yang cukup. Salam bulutangkis!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar