Senin, 20 Januari 2014

Sebelum gue ngepost cerpen gue, gue mau ngenalin nama gue dulu. My name is Rahmat Suminto. Gue dibrojolin di Bandar Lampung tanggal ... Mei 1999. Sekarang alhamdulillah gue baru berumur 14 tahun. Perkenalan gue akan disambung di blog selanjutnya aja ya Mbro..

Guru Cerewet Favoritku
IPS merupakan pelajaran favoritku, apalagi Sejarah. Di sela-sela aku sedang istirahat, biasanya kuluangkan waktuku untuk membaca buku-buku ensiklopedia yang bertemakan sejarah. Tidak hanya di buku saja aku memperoleh pengetahuan tentang sejarah. Di TV, bahkan di situs jejaring sosial seperti Twitter yang sering aku buka lewat laptopku pun, aku tidak “labil ilmu” mengenai Sejarah dengan memFollow akun Twitter yang suka mengetweet suatu hal tentang Sejarah dan referensi pengetahuan sosial lainnya.
Mengenai kaitan antara sekolah dengan Sejarah, pasti ada kaitannya, karena Sejarah merupakan Ilmu pengetahuan yang termuat dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial atau biasa disingkat IPS. Apalagi saat ini aku duduk di bangku kelas 9 SMP, kelas akhir dalam Sekolah Menengah Pertama. Itu artinya, sebentar lagi aku akan menghadapi Ujian Nasional, kurang lebih 5 bulan lagi. Tetapi sayang, IPS tidak termasuk dalam mata pelajaran yang akan diujikan dalam ujian nasional. Tetapi aku tidak berkecil hati, toh walaupun tidak ada dalam ujian nasional, yang penting aku mengerti dan dapat memahami sesuatu yang berkaitan dengan pengetahuan sosial.
Kenapa IPS merupakan pelajaran favoritku? Karena saat aku kelas 5 SD, guru kelas ku mengajar tentang sejarah, tepatnya tentang Penjajahan Belanda di Indonesia. Guruku pun menceritakannya dengan penuh semangat seolah-olah ia ikut terjadi dalam peristiwa itu. Aku yang mendengarkannya pun terkesima juga, sama seperti guruku itu, seolah-olah hadir dalam peristiwa itu. Apalagi saat ia bercerita tentang tokoh penentang tanam paksa Van Den Bosch yang semena-menanya terhadap rakyat Indonesia. Van Den Bosch memaksa ribuan rakyat Indonesia untuk menanam tanaman-tanaman yang diperlukan oleh bangsa Belanda untuk keperluan logistik perang&kebutuhan sehari-hari tanpa diberi upah, yang dikenal dengan kerja rodi.Tidak sedikit pula rakyat Indonesia yang meninggal karena kelaparan akibat kerja paksa ini. Aku pun membayangkan betapa kejinya rakyat Belanda terhadap Indonesia saat itu.
Jika bicara tentang guru IPS, apalagi guru IPS ku kelas 9 ini, hmm.. sangat berkarakter sekali gurunya. Awalnya aku benci dan kesal kepadanya, karena guru ini terkenal dengan “Cerewet” nya di sekolahku. Namanya adalah bu Wati. Aku tidak menyangka, pelajaran IPS kelas 9 diajarkan olehnya. Karena aku dan teman-temanku mengira bahwa pelajaran IPS, yang mengajar kami adalah Pak Yadi, seperti kelas 9 tahun sebelumnya. Saat mengetahui Bu Wati yang mengajar, urat nadiku langsung bergetar halilintar.
Saat pelajaran pertama ibu cerewet ini, aku dan teman-temanku, termasuk Rahman teman sebangkuku, berusaha untuk tidak ribut dalam pelajaran ini. Kami berbuat seperti itu karena kami takut terkena semburan bicaranya, yang pernah aku alami saat sedang ulangan di kelas 8. Saat aku sedang ulangan, aku merasa kepanasan. Oleh karena itu, aku lalu mengipas-ngipas badanku. Saat bu Wati mengetahui aku sedang berkipas, sontak guru itu langsung memarahiku.
“Hei kamu, yang duduk dibelakang, mau ulangan apa kipasan!” Teriak bu Wati yang sedang membagikan kertas soal ulangan.
“Panas bu.” Jawabku.
“Kalo panas diluar sana, cari tempat yang dingin.” Teriak guruku lagi. Saat itulah, aku kesal kepadanya.
Pelajaran pertama yang Bu Wati ajarkan kepada kami adalah Ilmu Geografi, yaitu tentang negara maju dan negara berkembang. Bu Wati pun memaparkan seluk bekuk tentang negara maju dan negara berkembang. Indonesia misalnya yang merupakan negara berkembang di dunia ini pun tak luput dari pemaparannya. Ia berkomentar, mengapa negara Indonesia yang besarnya sedemikian rupa ini, yang mempunyai kekayaan alam berlimpah ruah tidak digunakan dengan seefisien mungkin. Bu Wati pun mengajak kami selaku generasi penerus untuk lebih efisien dan giat membangun tanah air Indonesia ini.
Ternyata eh ternyata, diajar olehnya cukup asyik juga. Mengapa begitu? Karena disela-sela ia sedang menerangkan pelajaran, ia bercerita tentang pengalamannya saat disuruh oleh guru IPS nya untuk super visi pelajaran IPS saat ia masih duduk di bangku SMP. Karena Bu Wati sangat menyukai pelajaran IPS, maka pelajaran IPS itu mudah saja baginya. Tantangan dari gurunya itupun mudah saja dilewatinya. Setelah melewati tantangan itu, Bu Wati meminta upah kepada guru IPSnya saat itu, upah yang dimintanya adalah Pempek dengan cuka dua botol. Sontak kami pun tertawa dengan curhatan ibu ini, apalagi mengenai cuka dua botolnya itu.
Keesokan harinya, karena pembahasan Ilmu Geografi telah selesai, maka selanjutnya adalah pelajaran yang selalu aku tunggu-tunggu, yaitu pelajaran Sejarah. Materi pertama sejarah adalah tentang Perang Dunia ke-1 dan 2. Bu Mila pun menerangkannya dengan lugas dan jelas, dan tak lupa olehnya juga diselingi dengan curhatan-curhatan yang membuat kami sekelas termasuk aku tertawa terbahak-bahak. Rupanya memang aku harus sangat mensyukuri diajarkan oleh ibu cerewet ini, karena saat mengajarkan pelajaran IPS seperti Sejarah ini lebih cepat meresap, seolah-olah aku juga berada di tempat kejadian bersejarah itu.
Hari-hari diajar oleh Bu Wati telah dilalui sampai sekarang. Pelajaran Bu Wati ini ada setiap hari Selasa dan Rabu. Selasa pada jam terakhir pelajaran, Rabu saat jam awal pelajaran. Tidak jarang ibu cerewet ini curhat di kelas kami, tidak jarang pula ibu ini mencereweti kelas kami akibat kelakuan kami, contohnya saat sebagian teman sekelasku yang makan permen di kelas saat beliau sedang sibuk di Ruang Guru. Saat temanku kepergok sedang makan permen, Bu Wati pun langsung memarahi kami.
“Siapa yang makan permen di kelas?Keluar ke lapangan sekarang!” Tanyanya dengan nada tinggi sambil berlenggang menuju kantor.
Guru itu pun keluar. Karena kami sangat menjunjung tinggi solidaritas, maka kami sekelas menuju lapangan. Tetapi tak terlihat Bu Wati saat itu, maka kami menghubungi guru kelas kami, Bu Pristi yang sedang duduk di meja piket. Bu Pristi pun menanyai kami perihal kami yang berbondong-bondong menuju lapangan.
“Ada masalah apa kalian? Kok sekelas kesini semua?” Tanya Bu Pristi.
“Gara-gara kami makan permen di kelas, Bu. Terus yang tadi makan permen disuruh ke lapangan bu sama Bu Wati.” Jawab teman sekelasku, Rika dengan singkat.
“Kenapa bisa makan permen di kelas? Ini semuanya yang makan? Herman, kamu juga makan permen?” Tanya bu Pristi lagi, kali ini aku pun ditanyainya aku ikut makan permen di kelas atau tidak.
“Mungkin gara-gara pelajaran IPA  sebelum mata pelajaran IPS, Bu. Pelajaran IPA tadi, kami sempat bermain teka-teki, siapa yang dapat menjawab maka ia akan mendapat permen. Saya tidak ikut makan bu, tetapi saya ikut teman-teman kesini.” Jawabku dengan lugas.
“Berarti itu kesalahan kalian juga karena makan di kelas. Sekarang, minta maaflah kepada Bu Wati, dan berjanji tidak akan mengulangi hal itu lagi.” Ucap guru kelas kami itu.
Kami pun kembali ke kelas, Bu Wati rupanya sudah berada dalam kelas dan memarahi kami semua. Kami pun meminta maaf atas kejadian itu. Setelah itu, kami kembali belajar seperti biasanya.
**
Tidak terasa, kami telah melakukan tiga kali ulangan harian. Ulangan harian pertama dan kedua, aku berhasil tuntas dan tidak harus remedial ulangan. Sedangkan ulangan harian ketiga tentang materi Sejarah, nilaiku dibawah KKM alias tidak tuntas. Hal itu dikarenakan  soal ulangan yang aku kerjakan bertolak belakang dengan apa yang aku pelajari, padahal aku sudah bekerja keras belajar agar tuntas dalam materi Sejarah. Tetapi bagiku nilai tidak seberapa penting, yang penting ilmu yang kita dapat dan berguna untuk kehidupan sehari-hari dan masa depan kelak. Demikian pula dengan masalah pelajaran. Segalak apapun guru itu, secerewet apapun guru itu, toh kita juga yang ingin memperoleh ilmu, kita juga yang merasakan manfaatnya, dan Bu Wati pun sudah membuktikan itu kepadaku dan juga teman-temanku. Mengingat kata pepatah, dimana ada kemauan, disitu ada jalan.


Ini pengalaman nyata gue di sekolah, asli. Sekarang gue udah kelas 9 SMP.. bENTAR LAGI LULUS, Hiks hiks... cepet banget waktu berlalu..